23 Desember 2008
Potret Permainan Tradisional Indonesia
Permainan Tradisional bermanfaat untuk mengajarkan nilai-nilai kebersamaan,kejujuran, tanggungjawab, sifat lapang dada (kalau kalah), dorongan untuk berprestasi, dan taat pada aturan. detail
4 Desember 2008
Permainan Tradisional
Walaupun Permainan Tradisional sudah mulai terpinggirkan dalam kehidupan modern, tetapi manfaat dari permainan tradional ini banyak sekali. detail
4 Desember 2008
Permainan Anak
Bermaian adalah cara efektif untuk belajar. Permainan Anak dapat memacu imajinasi anak untuk berpikir cerdas & creatif detail
4 September 2008
Bagaimana Meningkatkan harga Jual Rumah?
Hanya dengan tambahan biaya Rp 25 Ribu, Rumah Anda akan mempunyai nilai jual yang tinggi di mata pembeli. detail
» index berita
Martojono, Jakarta[URL]Mainan Edukatif dari Toko Anak Cerdas & Creatif. Benar-Benar membentuk pola pikir anak saya jadi cerdas dan kreatif. Saya beli Fraksi shape 5 dari Toko Anak Cerdas & Creatif. Kemudian saya ajari memai... detail
» isi testimonial
» lihat testimonial
|
Bermain Tingkatkan Kecerdasan by Warta kota 13 April 2008
Jangan pernah melarang anak balita Anda bermain, sebab itu adalah dunia mereka. Bermain membuat anak-anak pandai berekspresi, berimajinasi, dan berkreasi. Pokoknya, dengan bermain, anak-anak bisa jadi pintar. Membiarkan anak bermain akan meningkatkan kecerdasan, kreativitas, dan perilaku anak,” kata dr Soedjatmiko SpA (K), Msi, beberapa waktu yang lalu. Bahkan, menurut Soedjatmiko, mengajak anak bermain sejak di dalam kandungan akan meningkatkan pertumbuhan jaringan sel otak anak. Semakin sering anak diajak bermain maka semakin kompleks kemampuan otak si anak. Bagaimana caranya mengajak janin bermain? Ya ajak saja ia berkomunikasi ketika di dalam kandungan.
”Miliaran sel otak dibentuk sejak janin berumur enam bulan,” tutur Ketua Divisi Tumbuh Kembang RSCM tersebut.Soedjatmiko menjelaskan, setelah anak dilahirkan aktivitas bermain pun tidak boleh ditinggalkan. Bermain bisa berarti memakai alat permainan atau tidak. Nah, untuk permainan yang menggunakan alat permainan, orangtua harus meneliti apakah mainan untuk anaknya itu aman atau tidak. ”Pilihlah mainan yang aman. Mainan yang tidak aman misalnya mainan yang mudah lepas, mempunyai lubang-lubang kecil yang dapat menjepit jari anak, terlalu besar sehingga berbahaya, atau mengandung racun, misalnya mainan-mainan murah yang memakai cat berkualitas rendah,” papar Sekretaris Satgas Imunisasi PP IDAI itu.Bermain tidaklah harus memakai mainan mahal. Dengan sedikit kreativitas, orangtua dapat membuatkan anak-anaknya mainan. Misalnya, bermain bayangan, gelembung sabun, boneka kertas, dan lain-lain. Mendampingi anak Mendampingi anak bermain juga tidak kalah pentingnya. Sebab, selain membuat anak menjadi lebih aman saat bermain, mendampinginya juga akan meningkatkan hubungan emosional antara orangtua dan anak.”Ini bagian dari pola pengasuhan. Dengan mendampingi anak berarti orangtua mengekspresikan kasih sayangnya. Kasih sayang itu bisa membuat anak menjadi aman, percaya diri, berani, serta lebih kreatif dan inovatif. Selain itu, kasih sayang membuat anak tumbuh menjadi manusia dewasa yang penuh kasih sayang dan prososial. Juga meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritualnya serta dapat mencegah bullying,” ujar Soedjatmiko. Soedjatmiko menjelaskan, hal yang perlu diperhatikan dalam pengasuhan anak adalah orangtua harus demokratis. Dalam mendampingi anaknya, orangtua harus memberikan kasih sayang dengan penuh kehangatan dan kegembiraan. Sikap ditaktor menyebabkan anak menjadi kurang inisiatif, kreatif, dan komunikatif. Meski begitu, orangtua jangan selalu menuruti semua kemauan anaknya. Hal itu membuat anak menjadi kurang kendali dan tidak bertanggung jawab. Bermain Sesuai Usia Bagaimana anak bermain? Permainan anak harus sesuai dengan usianya. Berikut ini tipnya: Usia 18-24 Bulan • Membacakan cerita dan bernyanyi bersama • Bermain telepon-teleponan untuk melatih keterampilan berbahasa • Menonton televisi • Melepaskan baju dan merapikan mainan • Makan bersama dengan sendok dan garpu • Bermain dengan balok, puzzle, lilin, dan menggambar • Berjalan, berlari, melompat • Berdiri satu kaki, naik turun tangga • Melempar, menangkap, dan menendang bola. Usia 24-36 Bulan • Membacakan cerita sambil melakukan tanya jawab • Meminta anak menceritakan pengalamannya • Menonton televisi • Bermain dengan puzzle, balok, menggambar, menempel • Mencocokkan gambar dan benda • Menghitung • Melempar, menangkap • Berlari, melompat, memanjat, merayap Usia 36-48 Bulan • Menyebutkan nama benda, sifat, guna benda • Membacakan cerita, bertanya jawab • Menonton televisi • Bermain masak-masakan • Menggunting, menempel, menjahit • Bermain puzzle, balok, menggambar, mewarnai, menulis • Menghitung, mengenal angka, huruf • Memanjat, merayap, main sepeda roda tiga • Bermain peraturan lalu lintas atau ular naga dengan teman. Usia 48-60 Bulan • Membacakan buku, bertanya jawab, bercerita • Mengingat, menghafal, dan mengerti peraturan • Membandingkan besar-kecil, banyak-sedikit • Menghitung satuan dan pecahan • Melempar, menangkap, berlari, melompat • Memanjat, merayap, sepeda roda tiga, ayunan • Bermain dan makan bersama dengan teman
|
|
|